Menu
Lembaga Investigasi Mendidik Pro Rakyat Nusantara

Fahrul Idris. A MA.PD, Menghormati Pemimpin

  • Bagikan
fahrul - menghormati pemimpin

Setiap perkumpulan terdapat seorang pemimpin. Demikian juga dalam perkumpulan Lidik Pro terdapat seorang pemimpin yang disebut sebagai Ketua sesuai dengan tingkat kepengurusan.

Contoh kata Fahrul ” Ketua Umum, DPP, DPD, DPC dan PAC adalah pemimpin-pemimpin dalam Lidik Pro”, singkat Ketua BINPRO DPD kabupaten Bulukumba.

Organisasi yang ideal, manakala memiliki seorang Pemimpin yang ditaati, dicintai, dan dihormati.

Namun tentu, perlakuan terhadap pemimpin seperti itu, manakala pemimpinnya bergerak sesuai acuan dasar organisasi seperti AD/ART, haluan atau pedoman organisasi maupun Etika Organisasi seperti mampu berbuat baik, adil, dan jujur terhadap kader-kader yang dipimpinnya.

Baca Juga : Fahrul : Menyiapkan Generasi Penerus Organisasi Lidik Pro

Fahrul Idris Aktivis Lidik Pro Kindang - Persiapan Generasi Organisasi Lidik Pro
Diskusi Kader Lidik Pro di Sekretariat DPC Kecamatan Kindang

Suasana seperti itu akan melahirkan saling kasih mengasihi antara mereka yang dipimpin dan yang memimpin.

Tali hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin, agar menjadi tetap kokoh, seharusnya berupa kebersamaan dan kasih sayang yang sesuai dengan etika dan PO organisasi.

Kebersamaan dan Kasih sayang akan melahirkan ketaatan, penghormatan, dan bahkan juga kesediaan untuk berkorban di antara sesamanya.

Demokrasi

Sistem demokrasi Lidik Pro, Ketua dipilih langsung oleh kader.

Dengan demikian mestinya para Ketua adalah orang yang paling dicintai, ditaati, dan dihormati oleh mereka yang memilihnya.

Atas dasar proses demokrasi seperti itu, semestinya tidak ada alasan untuk tidak mencintai, menaati, dan menghormati pemimpinnya sendiri.

Namun sayang sekali, suasana ideal itu tidak selalu terjadi.

Ketua yang semula dipilihnya sendiri, ternyata tidak ditaati dan bahkan ditinggalkan.

Ketua yang bersangkutan dianggap tidak jujur dan tidak adil.

Bukankah semestinya tatkala memilihnya, telah menyadari bahwa pemimpin itu sebenarnya adalah orang biasa.

Statusnya sebagai manusia biasa, maka tatkala menjadi pemimpin sekalipun tidak pernah luput dari kekurangan dan kesalahan.

Manusia selalu disebut sebagai //mahallul khotho wannis-yan// tempatnya salah dan lupa.

Mencari pemimpin yang tidak memiliki kesalahan, tak akan pernah mendapatkannya.
Sebab semua orang, –kecuali rasul yang maksum, selalu memiliki sifat lupa dan salah itu.

Pemimpin, siapapun orangnya, seharusnya diterima secara utuh, baik tatkala sedang melakukan kebenaran maupun tatkala sedang melakukan kesalahan.

Apalagi, kesalahannya itu misalnya, tidak disengaja atau tidak dikehaui olehnya.

Sebagai orang yang sedang dipimpin, manakala pemimpinnya melakukan kesalahan, harus mengingatkan.

Membiarkan pemimpinnya melakukan kesalahan, merupakan kesalahan. Bahkan, dalam shalat sekalipun, ketika imamnya salah, makmum harus mengingatkannya.

Pemimpin dan Kepemimpinan

Pemimpin adalah orang yang memimpin kelompok dua orang atau lebih, baik organisasi maupun keluarga.

Sedangkan kepemimpinan adalah kemampuan seorang pemimpin untuk mengendalikan, memimpin, mempengaruhi fikiran, perasaan atau tingkah laku orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Sebenarnya, pemimpin dan kepemimpinan merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan secara struktural maupun fungsional. Seperti organisasi, juga terdapat banyak pengertian-pengertian mengenai pemimpin dan kepemimpinan.

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Mengutip sebuah mutiara hadits dalam agama yang penulis yakini. Sudah menjadi ketetapan-Nya bahwa kita adalah seorang pemimpin.

Hal ini tidak mempedulikan apa jabatannya sekarang, berapa jumlah bawahannya, strata pendidikannya, darimana sukunya berasal, dan berapa penghasilannya per bulannya.

Kita murni terlahir sebagai pemimpin di dunia ini, entah itu di lingkup organisasi maupun lingkup kecil keluarga tersayang atau dalam lingkup yang lebih kecil lagi, diri kita pribadi.

Kita selalu dituntut tampil dengan baik sebagai seorang pemimpin. Pemimpin yang bisa mengayomi, pemimpin yang bisa melindungi dan menjadi teladan bagi pengikut atau orang yang dipimpinnya.

Taufan pawe
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *